Teks Berjalan

Om Swastyastu, Sameton Sutha Abimanyu, raajeng Galungan lan Kuningan (21 Mei lan 31 Mei 2014) Dumogi Iraga ngamolihang pamargi rahayu lan santih, Om santih, santih, santih.

Jumat, 17 Februari 2012

APA ITU "BABAD"?

BABAD
Oleh : 
Pande Kadek Juliana,S.S.
A. PENGANTAR

Di Bali, karya sastra masih berhubungan erat dengan masyarakat pendukungnya, terutama sekali pada zaman kerajaan, sastra menjadi dasar dan cermin tindakan para raja dalam mengemban masyarakat yang diayominya, dalam melaksanakan politik kerajaan serta tindakan-tindakan penting lainnya (Kanta, 1984 : 2, dalam Suarka, 1989: 1). Hingga kini di daerah-daerah pedesaan, pendukungnya masih berpedoman kepada karya sastra dalam melakukan tindakannya sehari-hari. Kesempatan semacam ini memungkinkan berkembangnya berbagai jenis karya sastra dengan beraneka macam isi, nilai-nilai, ajaran-ajaran, pola berpikir adat istiadat, dan lain-lainnya yang sangat bermanfaat bagi perkembangan kehidupan bermasyarakat.

Salah satu ragam sastra yang hidup dan berkembang di masyarakat sampai saat ini adalah karya sastra sejarah. Karya sastra sejarah ialah salah satu bentuk karya seni yang memaparkan unsur-unsur histories dan geneologis lewat unsur-unsur kesastraan. Di Bali karya sastra sejarah hadir dalam berbagai bentuk, yakni dapat berbentuk kakawin, kidung, geguritan, babad. Dalam genre babad ini ini masih terdiri atas babad, usana, uwug (regreg, rusak), dan pamancangah.


Menurut I Gusti Ngurah Bagus, babad merupakan salah satu warisan budaya Bali yang menjabarkan pikiran para budayawan pada zamannya. Sebagian dari pikiran tersebut tetap hidup dan berkembang di Bali. Dalam babad, terlihat kegiatan mencatat sejarah hidup berupa silsilah atau garis keturunan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Sedangkan menurut Sartono Kartodirjo, babad merupakan penulisan sejarah tradisional atau historyografis tradisional, yang merupakan satu bentuk dari suatu kultur yang membentangkan riwayat, dimana sifat-sifat dan tingkat kultur mempengaruhi bahkan menentukan bentuk itu, sehingga historyografi selalu mencerminkan kultur yang menciptakannya.

Masyarakat Bali merasa silsilah leluhur dengan diri mereka berkaitan, setidaknya mereka mempunyai naskah yang disimpan sebagai tanda pengesahan, pengukuhan, atau pengagungan warganya sendiri. Lika-liku perjalanan hidup dan kehidupan para leluhur dengan diri mereka sebagai gambaran pohon: ada akar, batang, cabang, ranting, yang mempunyai kaitan satu dengan yang lainnya. Gambaran semacam itu di dapatkan dalam babad. Di Bali, masyarakat Bali masih mencari babad yang menceritakan silsilah asal usul leluhur mereka. Mengetahui babad, setidaknya mendapat gambaran cerita, kejadian-kejadian yang berhubungan dengan tokoh tertentu, yaitu tokoh golongannya atau warganya, atau juga dapat mengetahui gambaran latar belakang sosial, tradisi yang diwariskan.

Babad merupakan karya sastra sejarah. Maksudnya, karya yang mengandung nilai dan sifat sastra sejarah, atau karya sastra yang bahannya diambil dari sejarah, seperti yang dikatakan oleh A. Teeuw dan Pegeaud. Sebagai karya sastra, ia harus memenuhi unsur estetis dan juga imajinasi, dan sekaligus mengandung unsur sejarah – sebagai ciri pembeda khusus dengan jenis sastra yang lain.

Babad mengandung pola struktur sastra: ada tema, alur, tokoh, dan gaya yang disatukan dengan gambaran mitologi yang menjalin silsilah, diselingi legenda dan diperkuat dengan simbol-simbol yang berupa  lambang-lambang sebagai penambah kharisma tokoh.

B. PENGERTIAN BABAD

Seperti yang sudah diketahui, babad bukanlah barang baru bagi masyarakat di Bali begitu pula para sarjana, karena babad sudah lama mendapat perhatian yaitu mulai abad XIX hingga sekarang. Walaupun demikian sampai sekarang pun belum ada kesatuan pendapat mengenai asal-usul kata babad atau belum dimiliki batasan babad secara pasti.

Pada umumnya istilah babad terdapat di Jawa, Madura, Bali, dan Lombok. Sedangkan di daerah-daerah lain seperti di Sulawesi Selatan disebut lontara, di Sumatra Barat dikenal dengan istilah tambo, di Kalimantan, Sumatra, dan Malaysia dikenal dengan istilah hikayat, silsilah, sejarah, sedangkan di Burma dan Thailand dikenal dengan sebutan kronikel (Sudarsono, 1985 dalam Suarka, 1989:8).

Ada bermacam-macam batasan mengenai babad. Menurut Sartono Kartodirjo, babad merupakan penulisan sejarah tradisional atau historyografis tradisional, yang merupakan satu bentuk dari suatu kultur yang membentangkan riwayat, dimana sifat-sifat dan tingkat kultur mempengaruhi bahkan menentukan bentuk itu, sehingga historyografi selalu mencerminkan kultur yang menciptakannya.

Menurut Daru Suprapta, sastra babad adalah salah satu jenis sastra sejarah yang berbahasa Jawa Baru yang penamaannya beraneka ragam, antara lain berdasarkan nama diri, nama geografi, nama peristiwa atau yang lainnya.

Menurut Kamus Besar Bali–Indonesia ada dua pengertian babad tersebut, yaitu: (1) babad berarti selaput rongga perut dalam hewan, dan (2) babad berarti merabas, tebas, pangkas, rambah. Menurut Purwadarmita, babad dapat berarti riwayat, sejarah atau tambo. Menurut Putra Agung, babad dapat berarti asal usul atau silsilah. Menurut Uhlen Beck, babad merupakan suatu kronikel atau tulisan sejarah yang digunakan oleh masyarakat Jawa dalam menentukan dan menuliskan peristiwa-peristiwa sejarah yang digubah dalam bentuk lain.

C.  SIFAT-SIFAT BABAD

Babad sebagai karya sastra sejarah ditulis oleh seorang pujangga yang disebut pratisentana, turunan masing-masing klen. Adapun tujuannya untuk memuliakan leluhur suci yang dipujanya dan dibanggakan yang diangkat dalam cerita itu ( Suteja dalam Suarka : 9).

Tradisi penulisan babad oleh seorang anggota warga dengan berbagai tujuan adalah memberikan semacam peluang bagi si penulis dalam menyelipkan imajinasi, tafsiran fakta, alam pikiran, kepercayaan serta unsur-unsur fiktif yang senantiasa dihubungkan dengan ketinggian derajat leluhurnya. Penulisan babad meramu peristiwa-peristiwa sejarah sesuai dengan daya khayal, intlektual, pandangan, selera, pengalaman, situasi, dan kondisi pada zamannya. Penulis babad akan lebih cendrung ke arah sikap menuliskan “apa yang sebaiknya di tulis”  dan bukan “apa yang seharusnya ditulis” dalam sebuah babad. Dengan demikian, babad akan bersifat lokal dan subjektif, sehingga bukanlah merupakan sumber yang kritis ilmiah.

Para ahli budayawan mengidentivikasi sifat-sifat babad menurut bentuk dan isi dari babad tersebut. Ada beberapa pendapat mengenai sifat-sifat babad, antara lain :

1.    Menurut A. A. Gde Putra Agung, sifat-sifat babad di Bali dapat dibagi menjadi duabelas sifat, antara lain:
  • Bersifat sakral magis, berarti babad tersebut dikramatkan dan memiliki nilai sakralitas/kesaktian (berbau kutukan) dan magis/kesaktian yang dipercaya masyarakatnya.
  • Legendaris, berarti babad itu bahan ceritanya diangkat dari legenda yang beredar dalam masyarakat daerah tersebut.
  • Mitologis, berarti isi dari babad ini mengandung salah satu mitos yang beredar di masyarakat setempat dan diyakini oleh masyarakat tersebut.
  • Religo magis, berarti babad tersebut memiliki nilai tentang ketuhanan dan magis/kesaktian.
  • Istana sentris, berarti babad itu hanya beredar/berpusat dikalangan istana/kraton saja.
  • Rajakultus, isinya menceritakan tentang seorang raja tertentu yang diagung-agungkan bagai dewa.
  • Geniologis, berarti isi babad ini mengandung silsilah dari raja-raja tertentu untuk mengingatkan keturunannya akan leluhurnya.
  • Bersifat pragmentaris, berarti babad ini hanyalah salah satu bagian dari suatu cerita/kisah babad yang ada.
  • Bersifat pragmatis, berarti sesuai dengan tujuan dari pembuatan babad itu.
  • Bersifat lokal, berarti babad ini hanya beredar di suatu daeah tertentu saja.
  • Bersifat analogis simbolis, berarti babad ini dalam isinya menganalogikan sesuatu, maksud penulis disembunyikan.
  • Bersifat anonim, berarti tanpa mencantumkan nama pengarang.
2.    Menurut Sulastin Sutisno, sifat-sifat babad di Jawa, antara lain; mitologi, legenda, geografi (terjadinya kemujizatan), simbolisme, dan sugesti (hayalan yang mempengaruhi).

3.    Menurut Sartono Kartodirjo, sifat-sifat babad di Jawa antara lain; geniologis, asal mula raja kultur yang mistis atau legendaries dan merupakan bagian yang terpenting, mitologi tentang perkawinan dengan bidadari,  legenda tentang pembuangan anak, legenda tentang pendirian kerajaan, kecendrungan menjunjung tinggi raja pulo.

4.    Menurut Soenaryo, sifat-sifat babad terpenting adalah; geniologis, mitologis, dan asal mula rajakultus yang legendaris.

Jadi, secara garis besar, dari beberapa sifat-sifat babad di atas, maka dapat disimpulkan sifat-sifat umum dari babad yaitu;
1.    Bersifat anonim, berarti tanpa nama pengarangnya.
2.    Bersifat lokal, hanya hidup dalam kelompok masyarakat tertentu.
Bersifat historis viktif, tentang sejarah dan kebanyakan unsur-unsur viktif di dalamnya (legendaries, mitologis, legendaries, simbolis, sugesti).

D. SEKITAR KONVENSI BABAD

Membaca dan menilai sebuah karya sastra bukanlah sesuatu yang mudah. Setiap pembaca roman atau puisi, baik modern atau pun klasik, pasti pernah mengalami kesulitan, merasa seakan-akan tidak memahami apa yang dikatakan atau pun dimaksudkan oleh pengarangnya. Proses membaca adalah memberi makna kepada sebuah teks tertentu yang dipilih atau yang dipaksakan kepada kita yakni proses yang memerlukan pengetahuan system kode yang cukup rumit, kompleks, dan aneka ragam. Untuk memahami sebuah karya sastra, pembaca harus menguasai berbagai macam sistem kode, baik kode bahasa, kode budaya, maupun kode sastra (Teeuw, 1983: 15).

Dalam perwujudan sastra dan karya sastra, ketiga kode tersebut berperan sebagai sistem konvensi, namun bukan sistem yang baku dan ketat, melainkan sistem yang luwes dan penuh dinamika. Karya sastra disatu pihak terikat olek konvensi, tetapi dipihak lain ada kelonggaran dan kebebasan untuk mempermainkan konvensi itu, untuk memanfaatkan secara individual, malahan untuk menentangnya walaupun dalam penentangan itu pun pengarang masih terikat. Pengarang terpaksa demi nilai karyanya sebagai hasil seni untuk menyimpang baik di tingkat pemakaian bahasa, maupun pada tingkat penerapan konvensi sastra. Demikian sastra sebagai sebuah seni selalu berada dalam ketegangan antara konvensi dan pembaharuan, antara keterikatan dan kebebasan mencipta, antara mimesis dan kreasi ( Teeuw via Suarka, 1985 : 147).

1.    Konvensi Bahasa Teks Babad
Faktor pertama yang dalam model semiotik sastra harus diberi tempat yang selayaknya adalah bahasa, sebagai sistem tanda yang kompleks dan beragam. Menurut Jurij Lotman (via Suarka, 1989 : 11), bahasa merupakan sistem pembentuk model yang primer, yang mengikat baik penulis maupun pembaca, tidak hanya dalam arti bahwa kedua-duanya harus mengetahui bahasa yang dipakai dalam karya sastra, tetapi juga dalam arti bahwa keistimewaan struktur bahasa itu secara luas membatasi dan sekaligus menciptakan potensi karya sastra dalam bahasa tersebut.

Di Bali teks babad pada umumnya menggunakan bahasa Kawi-Bali, yaitu bahasa campuran antara bahasa Sansekerta, Bahasa Jawa Kuna/ Kawi, bahasa Jawa Tengahan, dan bahasa Bali yang umum pada masa itu. Jika diperhatikan dan dibandingkan bahasa Kawi-Bali atau bahasa Bali Tengahan dengan bahasa Jawa Tengahan hampir sama, karena memang mempunyai persamaan mengenai kosa kata, struktur, bunyi bahasa atau langgam bahasanya. Bahasa ini berkembang sejak pemerintahan raja Samprangan (Dalem Ketut Sri Kresna Kapakisan) yang berkuasa di Bali pada tahun 1350-1385M. Kemudian dilanjutkan pada zaman Gelgel (1380-1460), dan berkembang terus sampai zaman Klungkung sekitar tahun 1710. Bahasa tersebut digunakan oleh para pujangga dalam menyusun undang-undang, piagam-piagam, babad-babad, dan awig-awig desa. ( Bawa dkk, 1984/1985 : 52). Pendapat ini masih sejalan dengan pendapat Prof. Dr. Zoetmulder bahwa bahasa Jawa Tengahan merupakan perkembangan dari bahasa jawa Kuna yang selanjutnya berkembang dikalangan kraton-kraton di Bali, dan sebagian besar dituliskan pada kurun waktu ketika hubungan dengan pulau Jawa praktis terputus (baca Kalanguan, 1983 : 33).

2.    Konvensi Sastra
Faktor bahasa merupakan faktor yang hakiki dalam suatu karya sastra. tetapi bahasa bukanlah satu-satunya kerangka acuan yang mau tak mau ada antara karya sastra, pencipta, dan pembaca, sebab walaupun diketahui dengan baik bahasa yang dipakai dalam suatu karya sastra tertentu, pemahaman karya itu mungkin sekali akan gagal kalau tidak akrab dengan konvensi kesusastraan yang merupakan latar belakang dari suatu karya itu. Tanpa pengetahuan latar belakang konvensi sastra, pembaca tidak mempunyai jalan masuk ke hakikat sebuah karya sastra (Teeuw, 1984 : 60). Tugas ilmu sastra yang utama adalah mengupas sistem sastra itu, yakni menentukan konvensi sastra, baik yang paling umum maupun yang lebih spesifik untuk jenis sastra masing-masing dalam sebuah sistem yang bertingkat-tingkat sesuai dengan kenyataan.

babad bagian dari karya sastra sejarah, tentunya mempunyai konvensi sastra. Untuk membicarakan konvensi sastranya, peneliti bertumpu pada pendapat Darusuprapna (1976) tentang pola unsur struktur sastra sejarah yang pernah dikembangkan oleh A. Sarman Am. dan M. Padio menjadi “pola unsur sastra babad dan struktur isi” (via Surka, 1985 : 153).

a. Pola Unsur Sastra Babad
Yang dimaksud pola unsur sastra babad ialah berupa unsur-unsur sastra yang mengandung mitologi dalam jalinan genealogi atau silsilah yang dihubung-hubungkan dengan dewa-dewa, bidadari, tokoh-tokoh wayang, nabi-nabi, resi atau Begawan dan diselingi legenda yang bertalian dengan pola dasar alam pikiran pokok kehidupan yang cukup lama yang mengandung unsur-unsur air, tanah, api, dan udara. Kadangkala diperkuat lagi dengan siimbolisme yang berwujud lambang-lambang sinar berkelarat di angkasa yang disebut wahyu, daru, pulung atau berwujud benda-benda pusaka keramat, dan kata-kata kiasan. Kadangkala dengan hagiografi yang menunjukkan kemukjizatan atau dengan unsur sugesti berupa ramalan atau firasat, suara gaib, tabir mimpi, dan pemali.

Unsur mitologi (unsur-unsur fiktif), legende (asal muasal) , hagiografi (peristiwa-peristiwa mukjizat), simbolisme, dan sugesti (pengaruh) dinamakan aspek fiktif sebagai ramuan sastra dalam membentuk suatu bangunan sastra. Dengan memahami unsur-unsur tersebut akan tampak tema dan fungsi karya babad, sehingga dapatlah karya tersebut diletakkan pada kedudukan sewajarnya.

b. Struktur Isi Babad
Babad adalah cerita sejarah yang biasanya lebih berupa cerita daripada uraian sejarah, meskipun yang menjadi pola adalah peristiwa sejarah (Soekmono via Suarka, 1985 : 156).

Dalam babad unsur-unsur sejarah dapat dirasakan dalam struktur isinya yang berupa pelaku pemegang peranan yang biasanya dirangkaikan dalam jalinan silsilah, maupun peristiwa-peristiwa yang diceritakan bertalian dengan pelaku tersebut, atau pun gambaran alam pikiran, kehidupan kebudayaan, susunan tata pemerintahan, kebiasaan adat istiadat, dan keadaan masyarakat. Tebal tipisnya unsur-unsur sejarah sebagai struktur isi dalam sebuah babad ditentukan oleh pengetahuan penulis akan bahan atau ramuan-ramuan sejarah yang ditulisnya. Bila si penulis mengalami peristiwa itu sendiri, atau peristiwa itu ditulis tidak terlalu jauh dengan jarak antara penulis dan peristiwa, maka lebih banyak unsur-unsur sejarah di dalam karya tersebut.

Pada Umumnya, struktur isi dalam babad di Bali meliputi masa yang cukup panjang, berpuluh-puluh tahun bahkan berabad-abad dan meliputi generasi beruntun, seperti babad Pasek, Babad dalem, dan lain-lain. Unsur-unsur pelaku pemegang peranan disusun sambung-menyambung dikaitkan dalam garis keturunan. Bila dipandang dari sudut itu, babad Blahbatuh nampaknya telah mengikuti konvensi yang ada.

Dengan kehadiran unsur fiktif dan unsur sejarah sebagai struktur isi merupakan konvensi sastra yang spesifik bagi karya babad. sedangkan unsur-unsur sastra berupa tema, insiden, alur, latar, penokohan dan perwatakan  menjadi unsur sastra yang lebih universal dalam babad sebagai genre prosa.

3.    Konvensi Budaya
Konvensi budaya ada kalanya sudah tertuang dalam kode bahasa maupun kode sastra, tetapi ia masih tetap sebagai kode tersendiri. Kita ketahui bersama bahwa babad memiliki sifat legio-sentris (bersifat lokal). Ini berarti bahwa babad merupakan produk budaya pada suatu tempat. Sebagai produk budaya lokal tentunya babad akan lebih banyak menuangkan unsur-unsur budaya pada suatu daerah tempat babad tersebut dilahirkan.

Untuk memahami kode budaya dalam sebuah babad, peneliti mengembalikan karya sastra tersebut dan memandang karya itu sebagai perwujudan nilai-nilai dan peristiwa-peristiwa penting pada jamannya, seperti kehidupan kebudayaan, alam pikiran, susunan tata pemerintahan, kebiasaan adat-istiadat, keadaan kemasyarakatan, dan kegiatan kultural lainnya yang hanya dapat dipahami dalam suatu totalitas kehidupan masyarakat yang telah melahirkannya (Suarka, 1989 : 21).


E. DAFTAR PUSTAKA
  1. Bagus, I Gusti Ngurah. TT. “Unsur dan Aspek Sastra dalam Babad di Bali”. Denpasar : Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  2. Bawa, I wayan dkk. 1984/1985. Studi Sejarah Bahasa Bali. Denpasar : Pemerintah Daerah Propinsi Daerah Tingkat I Bali, Proyek Studi Sejarah Bahasa Bali.
  3. Dananjaya, James. 1982. Folklor Indonesia: Ilmu Gosip, Dongeng, dan Lain-Lain. Jakarta : Grafitipers.
  4. Jendra, I wayan, 1981. Suatu Pengantar Ringkas Dasar-Dasar Penyusunan Rancangan Penelitian. Denpasar : Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  5. Suarka, Dr. I Nyoman. 1989. “Karya Sastra – Sejarah Bali : Babad. Denpasar: Fakultas Sastra Universitas Udayana.
  6. Suarka, Dr. I Nyoman. 1985. “Babad Mpu Bharadah mwang Rangdeng Girah”. Denpasar : Fakultas Sastra Universitas Udayana. (Sebuah skripsi sarjana pada jurusan sastra daerah).
  7. Sujana dkk, 2000. Babad Blahbatuh dan Babad Brahmana. Denpasar : Kantor Dokumentasi Budaya Bali.
  8. Tarigan, Henry Guntur. 1984. Prinsip-Prinsip Dasar Sastra. Bandung: Angkasa.
  9. Teeuw, A. 1984. Sastra dan Ilmu Sastra Pengantar Teori Sastra. Jakarta : Pustaka Jaya.
  10. Zoetmulder. 1983. Kalanguan Bahasa Jawa Kuna. Bandung : Djambatan.

2 komentar:

  1. Keren banget bisa detil gini, saya agak tertarik pas tadi pertama baca bahasanya bali semua, salam hangat dari tanah Jawa mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Terima kasih mas sudah berkunjung ke laman blog saya... blog ini memang difokuskan ke pelestarian budaya bali, jadi tulisannya kebanyakan berbahasa bali.. :)

      Hapus

Wusan simpang, elingang komentarnyane ngih..! Ring colom FB ring sor taler dados. ^_^ sharing geguratane ring ajeng dados taler.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...