Teks Berjalan

Om Swastyastu, Sameton Sutha Abimanyu, raajeng Galungan lan Kuningan (21 Mei lan 31 Mei 2014) Dumogi Iraga ngamolihang pamargi rahayu lan santih, Om santih, santih, santih.

Kamis, 16 Februari 2012

TRADISI MAKOTEK

makotek 'menolak bala'
Menolak Bala dengan Upacara Makotekan
Warga Desa Munggu, Mengwi, Badung, memiliki tradisi unik untuk merayakan hari raya Kuningan. Kemarin mereka menggelar tradisi makotekan. Tradisi ini merupakan warisan leluhur dan warga selalu menggelar tradisi ini setiap enam bulan (210 hari) sekali, dipercaya tradisi ini sebagai penolak bala dan grubug. "Dan pernah suatu kali Mekotek tidak dilaksanakan muncul wabah penyakit misterius yang menyebabkan kematian warga secara beruntun", ujar I Ketut Kormi, Bendesa Adat Desa Munggu.

Kormi juga mengatakan, bahwa tradisi makotek yang digelar setiap hari raya Kuningan itu merupakan tradisi untuk memperingati kemenangan Kerajaan Mengwi saat perang melawan Kerajaan Blambangan, Banyuwangi, zaman dulu. Tradisi ini disebut makotek lantaran berawal dari suara kayu-kayu yang saling bertabrakan ketika kayu-kayu tersebut disatukan menjadi bentuk gunung yang menyudut ke atas.
Kayu-kayu yang digabung menjadi satu itu kemudian menimbulkan bunyi, dan bunyinya "tek tek tek", sehingga disebut makotek. Sebenarnya dulu tradisi ini bernama grebek yang artinya saling dorong. Pada zaman dulu, Mekotek dilakukan menggunakan tombak, tetapi karena berbahaya, tombak pun diganti dengan kayu jenis pulet yang banyak terdapat di desa. Mekotek yang biasa disebut perang kayu ini sebenarnya tak begitu sulit dilakukan.

Perang makotek ini dilakukan oleh sekitar ratusan kaum laki-laki yang berasal dari Desa Munggu. Mereka rata-rata berumur 13 hingga 60 tahun. Sebelum memulai atraksi ini, peserta terlebih dahulu melakukan persembahyangan bersama di pura desa, dan dilengkapi dengan percikan tirtha yang diberikan kepada para pemain dan kayu yang dibawa masing-masing pemain. Pantangannya. Peserta yang ikut tidak boleh ada yang keluarganya sedang meninggal, dan istrinya melahirkan. 

Dalam permainannya, ratusan kayu dari pohon pulet sepanjang 3,5 meter itu dipegang oleh masing-masing pemain, kemudian para pemain yang terbagi menjadi dua kelompok masing-masing membentuk sebuah lingkaran lalu menggabungkan kayu tersebut hingga membentuk gunungan kerucut untuk diadu dengan gunungan kayu kelompok lawan.

Salah seorang pemuda yang merasa tertantang pun harus menaiki kayu tersebut hingga berada di ujung dengan posisi berdiri. Kedua kelompok yang memegang kayu tersebut pun kemudian mempertemukan dua pemuda yang berdiri di atas kayu untuk berperang. Meski cukup berbahaya lantaran banyak pula yang terjatuh dari ujung kayu, namun tradisi ini tetap tampak menyenangkan karena banyaknya orang yang berkali-kali mencoba untuk naik. Selain itu, tradisi ini juga dipercaya dapat menjauhkan warga dari segala bentuk bencana. Menurut cerita, tradisi tersebut sudah lama ada dan dulu sempat ditiadakan, namun kemudian muncul bencana yang menimpa warga.

Sejarah  Mekotekan
Awal mula atau sejarah tari Mekotekan di Desa Munggu Kabupaten Badung ini masih diliputi ketidakjelasan. Sementara ini yang berkembang di masyarakat adalah versi dari Ida Pedanda Gede Sidemen Pemaron dan versi yang bersumber dari Bendesa Adat Munggu I Ketut Kormi.
I.        Versi Ida Pedanda Gede Sidemen Pemaron

Sejarah tari Mekotekan ini berawal dari keberadaan, Raja IV Cokorda Nyoman Munggu pada Keraton Puri Agung Munggu. Beliau adalah seorang raja yang sangat arif dan bijaksana serta dicintai dan disegani oleh rakyat Mengwiraja dan sekitarnya, khususnya masyarakat di Munggu. Beliau memiliki kebun yang sangat luas yang sekarang disebut “Uma Kebon” serta memiliki peternakan yang disebut “Uma Bada”.

Beliau ingin meneruskan cita-cita pendahulunya, yaitu Raja I Gusti Agung Putu Agung yang mebiseka Cokorda Sakti Blambangan. Beliau membentuk pasukan berani mati di Desa Munggu, yang dibina oleh Bhagawantha raja dari Ida Brahmana di Munggu, dengan sebutan pasukan “Guak Selem Munggu”.

Pada suatu hari, sungai Yeh Penet yang melingkari ujung utara sampai tepi bagian Barat Desa Munggu, airnya terus mengalir menuju ke laut selatan, dan  meluap sehingga menimbulkan banjir bandang. Air sungai yang sangat deras itu menghanyutkan sebuah  pelinggih yang terapung-apung di permukaan air kemudian tersangkut pada akar pohon kamboja besar (pohon jepun sudamala). Atas kejadian itu masyarakat Munggu berduyun-duyun untuk melihatnya. Masyarakat Munggu yang tinggal di dauh rurung kemudian melaporkan hal tersebut ke hadapan Ida Bhagawantha Brahmana Pemaron Munggu yang berlanjut kehadapan Raja Cokorda Nyoman Munggu, yang pada saat itu raja kebetulan berada di keraton Puri Agung Munggu Pura di Mengwiraja. Beliau menitahkan masyarakat Munggu untuk mengangkat dan melestarikan pelinggih itu di tempat yang aman.

Pada saat itu pula ada salah seorang penduduk di Munggu kesurupan (kerauhan) dan mengaku sebagai utusan dari Ida Betari Ulun Danu Bratan, atas permohonan Ida Betara di Pura Puncak Mangu, yang memohon kepada Raja Bhagawantha untuk menyelamatkan pelinggih itu serta membangun sebuah pura yang merupakan stana Ida Betara Luhur Sapuh Jagat, untuk menjaga keselamatan rakyat Mengwiraja sebagai kahyangan jagat. Atas petunjuk orang yang kesurupan itu, diyakini bahwa pada waktu akan mulai meletakkan batu pertama (nasarin) Pura Luhur Sapuh Jagat akan menemukan segumpalan besi dan batu-batu yang berbentuk senjata. Gumpalan besi itu agar diamankan dijadikan senjata-senjata kerajaan Mengwipura, sedangkan batu-batu itu agar dilestarikan di tempat pembangunan pura tersebut.

Raja Cokorda Nyoman Munggu beserta Ida Bhagawantha Brahmana Munggu tidak begitu cepat percaya dengan ucapan-ucapan orang kesurupan itu, beliau ingin membuktikan lagi. Untuk meyakinkan, akhirnya orang yang kesurupan yang mengaku utusan Ida Betara Ulun Danu menjadi sangat jengkel dan berlari menuju pura Puseh Munggu, serta mengambil sebuah tedung yang panjangnya kurang lebih 5 meter dan menancapkan pada halaman pura Puseh, serta meloncat-loncat ke atas tedung. Di atas tedung itulah orang yang kesurupan itu menari-nari sambil menantang Rajabhagawantha dengan kata-kata yang sangat meyakinkan, bahwa ia benar-benar utusan Ida Betara Ulun Danu Bratan.

Dalam suasana hujan lebat serta angin puyuh, Raja beserta Ida Bhagawantha Brahmana Munggu, bersama-sama seluruh masyarakat Munggu menyaksikan hal itu. Setelah itu barulah beliau sadar serta berjanji memenuhi semua apa yang menjadi petunjuk yang diucapkan oleh orang kesurupan itu, yang merupakan pawisik Ida Batara (Sang Hyang Widi Wasa) sehingga orang itu langsung disucikan dijadikan  pemangku  Pura Puseh. Diputuskanlah oleh Ida Bhagawantha Brahmana Munggu, bahwa hari Rabu Kliwon Ugu,  mulai diadakan pembangunan atau nasarin Pura Luhur Sapuh Jagat di Desa Munggu Kabupaten Badung.

Benar-benar suatu keajaiban pada jagat Bali. Setelah penggalian pembangunan pura seperti petunjuk yang diucapkan  pemangku itu, terdapatlah gumpalan batu-batu. Ada yang berbentuk tamiang, besi-besi tua yang berbentuk senjata tajam. Setelah disaksikan oleh Ida Bhagawantha Brahmana Munggu dan seluruh masyarakat Munggu, akhirnya benda-benda tersebut diangkat dan ditempatkan pada bangunan suci untuk diamankan dan dilestarikan.

Sesuai dengan pawisik yang telah didapatkan sebelumnya, maka dipanggillah seorang wiku pande besi Desa Munggu oleh Cokorda Munggu untuk menjadikan besi tua itu senjata keris dan tombak, sehingga menghasilkan 5 buah senjata tajam yang terdiri dari keris dan tombak yang diserahkan kembali ke hadapan Cokorda Munggu. Kemudian diadakan upacara pasupati senjata oleh Ida Bhagawantha Brahmana Pemaron Munggu dan seluruh rakyat Munggu diperintahkan untuk membuat tempat pemujaan berupa panggung setinggi 6 m di perempatan Banjar Munggu untuk kegiatan upacara pasupati senjata-senjata tersebut.

Keris dan tombak tersebut disucikan terlebih dahulu dengan mempergunakan air bungkak kelapa gading, setelah itu dipercikan air suci dan sarana banten, lalu keris dan tombak langsung dihias dengan bunga pucuk merah yaitu pucuk rejuna dan busana kain serba merah. Keris-keris dan tombak pada saat dipasupati Ida Pedanda ditempatkan pada sebuah singgasana khusus dan selanjutnya keris-keris dikemit  selama 3 bulan di panggung  upacara tersebut secara silih berganti oleh warga desa Munggu yang mekemit untuk mohon keselamatan, keamanan, serta kenyamanan. Selama tiga bulan mekemit  Ida Pedanda mendapat wahyu agar keris-keris  dan tombak itu  masing-masing diberi nama :

1.       Sebuah keris runcing luk 11 (sebelas) diberi nama I Raksasa Bedek;
2.       Sebuah keris runcing luk 7 (tujuh) diberi nama I Sekar Sungsang;
3.       Sebuah keris runcing luk 5 (lima) bernama I Jimat;
4.       Sebuah keris runcing bernama I Sapuh Jagat; dan
5.       Sebuah tombak bernama I Bangun Oleg (Olog).

Setelah senjata-senjata yang didapatkan melalui pawisik gaib dipasupati dan dikemit selama tiga bulan, maka pada hari Sabtu Kliwon Kuningan pada Tumpek Kuningan, mulai diperagakan mengadakan perang-perangan yang diikuti oleh para laki-laki dewasa yang berasal dari seluruh Desa Munggu, kecuali bagi yang sedang cuntaka. Tari-tarian inilah yang kemudian dalam perkembangannya dikenal dengan tari Mekotekan.


II.     Versi Bendesa Adat Munggu, I Ketut Kormi.

I Ketut Kormi mengatakan tradisi Mekotek yang telah digelar warga Munggu secara turun temurun terkait dengan sejarah Raja Munggu, yang pergi ke Blambangan untuk melakukan perluasan wilayah. Pada peperangan itu Raja Munggu menang dan kembali ke Munggu bersama seluruh bala tentaranya. Rasa gembira bala tentara tersebut mengangkat tombak berjalan ke desa. Bahkan hingga mengenai bala tentara sendiri yang menyebabkan luka. Melihat kejadian tersebut, raja bertapa di Wesasa dan mendapatkan petunjuk bahwa luka itu bisa cepat sembuh dan kemudian me­nggelar ritual Mekotek. Selain itu, raja juga mengatakan jika ritual ini tidak digelar maka bisa ter­kena gerubug atau wabah pe­tir. Hal ini membuat masyarakat Munggu tetap menggelar ritual Mekotek hingga sekarang ini.

semangat melestarikan tradisi "makotekan"

editor: Pande Kadek Juliana

dari berbagai sumber.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar

Wusan simpang, elingang komentarnyane ngih..! Ring colom FB ring sor taler dados. ^_^ sharing geguratane ring ajeng dados taler.

Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...